Kethoprak Milenial Sanggar Bharada

Para seniman muda bermain peran dalam kesenian Kethoprak sebagai upaya melestarikan kebudayaan dan kesenian treadisional Jawa.

Ludruk Milenial Sanggar Bharada

Para seniman muda bermain peran dalam kesenian ludruk sebagai upaya melestarikan kebudayaan dan kesenian treadisional Jawa.

Tradisi Mantenan Adat Jawa

Para mahasiswa bahasa Jawa UNESA sedang praktik tradisi mantenan adat Jawa.

Tradisi Mantenan Adat Jawa

Para mahasiswa bahasa Jawa UNESA sedang praktik tradisi mantenan adat Jawa.

Parade Musik Gamelan

Para mahasiswa bahasa Jawa UNESA sedang mengikuti parade musik gamelan di Royal Plaza Surabaya.

Fragmen Kethoprak Sumenten Edan

Para mahasiswa bahasa Jawa UNESA sedang menampilkan fragmen kethoprak Suminten Edan di TVRI Jawa Timur.

Sunday, December 22, 2024

Modul 1.1. Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional KHD (Arti dan Maksud Pendidikan)

Dasar Dasar Pendidikan
Filosofi Pendidikan

1. Arti dan Masksud Pendidikan

Kata ‘Pendidikan’ dan ‘Pengajaran’ itu seringkali dipakai bersama-sama. Sebenarnya gabungan kedua kata itu dapat mengeruhkan pengertiannya yang asli. Ketahuilah, pembaca yang terhormat, bahwa sebenarnya yang dinamakan ‘pengajaran’ (onderwijs) itu merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Maksudnya, pengajaran itu tidak lain adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah buat hidup anak-anak, baik lahir maupun batin. Sekarang saya akan menerangkan arti dan maksud pendidikan (opvoeding) pada umumnya. Dengan sengaja saya memakai keterangan ‘pada umumnya’, karena dalam arti khususnya, pendidikan mempunyai beragam jenis pengertian. Bisa dikatakan bahwa tiap-tiap aliran hidup, baik aliran agama maupun aliran kemasyarakatan mempunyai maksud yang berbeda. Tidak hanya maksud dan tujuannya yang berbeda-beda, cara mendidiknya juga tidak sama. Mengenai keadaan yang penting ini, saya kan menerangkan secara lebih luas. Walaupun bermacam-macam maksud, tujuan, cara, bentuk, syarat-syarat dan alat-alat dalam soal pendidikan, pendidikan yang berhubungan dengan aliran-aliran hidup yang beragam itu memiliki dasar-dasar atau garis-garis yang sama. Menurut pengertian umum, berdasarkan apa yang dapat kita saksikan dalam beragam jenis pendidikan itu, pendidikan diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Maksud Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

2. Hanya Tuntunan dalam Hidup

Pertama kali harus diingat, bahwa pendidikan itu hanya suatu ‘tuntunan’ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Seperti penjelasan sebelumnya, bahwa ‘kekuatan kodrat yang ada pada  anak-anak itu’ tiada lain ialah segala kekuatan yang ada dalam hidup batin dan hidup lahir dari anak-anak itu karena kekuasaan kodrat. Kita  kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan- kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. Uraian tersebut akan lebih jelas jika kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Meskipun pertumbuhan tanaman pada dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodrat- iradatnya padi. Misalnya ia tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut seperti hanya cara memelihara tanaman kedelai atau tanaman lainnya. Memang benar, ia dapat memperbaiki keadaan padi yang ditanam, bahkan ia dapat juga menghasilkan tanaman padi itu lebih besar daripada tanaman yang tidak dipelihara, tetapi mengganti kodrat padi itu tetap mustahil. Demikianlah pendidikan itu, walaupun hanya dapat ‘menuntun’, akan tetapi faedahnya bagi hidup tumbuhnya anak-anak sangatlah besar.

Tut wuri handayani


3. Perlukah Tuntunan Pendidikan itu?

Meskpun pendidikan itu hanya ‘tuntunan’ saja di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga Pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaan dan keadaannya setiap anak. Andaikata anak tidak baik dasarnya, tentu anak tersebut perlu mendapatkan tuntunan agar semakin baik budi pekertinya. Anak yang dasar jiwanya tidak baik dan juga tidak mendapat tuntunan pendidikan, tentu akan mudah menjadi orang jahat. Anak yang sudah baik dasarnya juga masih memerlukan tuntunan. Tidak saja dengan tuntunan itu ia akan mendapatkan kecerdasan yang lebih tinggi dan luas, akan tetapi dengan adanya tuntunan itu ia dapat terlepas dari segala macam pengaruh jahat. Tidak sedikit anak-anak yang baik dasarnya, tetapi karena pengaruh-pengaruh keadaan yang buruk, kemudian menjadi orang- orang jahat. Pengaruh-pengaruh yang dimaksudkan itu ialah pengaruh yang muncul dari beragam jenis keadaan anak. Anak yang satu mungkin hidup dalam keluarga yang serba kekurangan, sehingga ditemui beragam jenis kesukaran yang menghambat kecerdasan budi anak. Bisa juga dalam keluarga itu tidak ditemui kemiskinan keduniawian, akan tetapi amat kekurangan budi luhur atau kesucian, sehingga anak-anak mudah terkena pengaruh-pengaruh yang jahat. Menurut ilmu pendidikan, hubungan antara dasar dan keadaan itu terdapat adanya ‘konvergensi’. Artinya, keduanya saling mempengaruhi, hingga garis dasar dan garis keadaan itu selalu tarik-menarik dan akhirnya menjadi satu.
Mengenai perlu tidaknya tuntunan dalam kehidupan manusia, sama artinya dengan soal perlu tidaknya pemeliharaan pada tumbuh- kembangnya tanaman. Misalnya, kalau sebutir jagung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik, banyak air, dan mendapatkan sinar matahari yang cukup, maka pemeliharaan dari bapak tani tentu akan menambah baiknya keadaan tanaman. Kalau tidak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak mendapat sinar matahari atau kekurangan air, maka biji jagung itu (walaupun dasarnya baik), tidak akan dapat tumbuh baik karena pengaruh keadaan. Sebaliknya kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya, akan tetapi ditanam dengan pemeliharaan yang sebaik-baiknya oleh bapak tani, maka biji itu akan dapat tumbuh lebih baik daripada biji lainnya yang juga tidak baik dasarnya.

Thursday, November 17, 2022

Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024:

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, seperti ditunjukkan oleh gambar berikut:


Keenam ciri tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia.

Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia: (a) akhlak beragama; (b) akhlak pribadi; (c) akhlak kepada manusia; (d) akhlak kepada alam; dan (e) akhlak bernegara.

2. Berkebinekaan global

Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen dan kunci kebinekaan global meliputi mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

3. Bergotong royong

Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen-elemen dari bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.

4. Mandiri

Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri.

5. Bernalar kritis

Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil Keputusan.

6. Kreatif

Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Unduh buku Tunas Pancasila pada tautan berikut Buku Tunas Pancasila
Unduh Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di sini

Contoh Cerpen Berbahasa Jawa / Cerkak (Cerita Cekak)


Cerpen Berbahasa Jawa / Cerkak (Cerita Cekak)

Contoh cerita pendek bahasa Jawa dapat menambah referensi kamu dalam membuat cerpen berbahasa Jawa atau cerkak alias cerita cekak (pendek).

Cerita cekak sendiri merupakan cerita pendek yang biasanya berisi tentang kisah fiksi. Cerkak menjadi salah satu karya sastra yang sering dipelajari di mata pelajaran sekolah, khususnya Bahasa Jawa.


Cerkak terbangun dalam beberapa struktur penulisan, salah satunya adalah eksposisi. Eksposisi dalam cerkak merupakan bagian yang mengenalkan tokoh utama, latar, serta situasi dalam cerita.
Apa Itu Cerkak?

Dalam laman Kemendikbud diterangkan bahwa cerkak merupakan singkatan dari cerita cekak atau cerita pendek yang dapat dimaknai luas sebagai cerita pendek yang padat dan langsung pada tujuannya dalam hal ini dalam bahasa Jawa. Unsur inti, intrinsik dan ekstrinsik merupakan bagian yang harus dipenuhi dalam sebuah cerkak.

Umumnya, unsur inti dari cerkak berisi pesan moral, kejadian tentang konflik tokoh utama yang dikenalkan, puncak kejadian, konflik yang dialami tokoh dan eksposisi tentang setting tokoh dalam cerita serta situasi kejadian.

Contoh Cerita Pendek Bahasa Jawa (Cerkak).

1. Sahabat Kang Becik

Pas mulih sekolah aku karo kanca-kancaku duwe rencana arep nyambangi Inda sing wes gak melbu sekolah ana seminggu. Jare kanca-kancaku si Inda iku lara tipes, terus aku duwe idhe urunan gawe gawakne roti lan buah-buahan sing di senengi Inda. Aku lan kancaku liyane numpak sepedah bareng mergakne omae Inda uga gak adoh saka sekolahan.

Ndilalahe pas nek tengah dalan ora sengaja ban sepedhahku kenek paku. “Do, pedahku kok krasa aneh ya lek di tumpak i”, aku muni nek Dodo !! “Lha emange konopo?” jawabe Dodo. “Sek jajal mandheg tak deloke dhisik”, balesku. Terus aku karo Dodo jajal mandek gawe ndelok pedhahku satemene kenek apa, Sementara kanca-kancaku liyane budhal dhisik gak enek sing weruh. Mbasan didelok, tibake pedhahku kenek paku lan bane gembos ora bisa ditumpaki.

Akire aku dikancani Dodo nuntun pedhah nggoleki tukang tambal ban. Amerga posisi pas kui tibake ora ana tukang tambal ban, aku duwe rencana nitipke sepedhahku ing omae salah siji warga cedhak kono. Terus aku digonceng Dodo nyusul kancaku sing wes padha budhal dhisik menyang omahe Andi. Aku matur suwun banget karo Dodo, amerga Dodo salah sijine sahabatku kang becik atine. Dodo gelem mbantu kancane pas lagi kesusahan. Sawise kedadean kuwi aku maleh akeh sinau artine persahabatan.

2. Kanca Saklawase

Jenengku Fajar, aku nduwe konco kang jenenge sodiq. Sodiq iku kancaku wiwit aku cilik. Sodiq iku wonge apikan ya setia kawan. Biasane sodiq ngundang aku tukang ngantukan, tapi aku ya ora duwe rasa risih nek diundang ngono kuwi mungkin wis biasa dadi ya gak takgawe ati.
“Duwar...itik-itik suarane sodiq ngageti aku. Kowe lho jhan ngaget-ngageti i aku wae, nek aku jantungen piye gelem pa awakmu tanggung jawab? Jawabku marang Sodiq. 
"Ngapurane lah jar, kowe sih ngantukan wae, kae uwis bel masuk, selak didukani mengko karo pak guru-guru", balas Sodiq marang aku. Sak uwise iku aku lan Sodiq mlebu kelas bareng-bareng.

Bel mulih sekolah uwes muni, kaya biasane aku karo Sodiq bali bareng, nanging tekan setengah perjalanan aku karo sodiq kepisah amerga Sodiq lagi arep mampir menyang tukang jahitan jupuk klambine ibuke. Akhire aku bali dhewean, la teko-teko buku sing takgawa tiba “buukkkk” ditabrak bocah cilik.
“Sepurane mas aku gak sengaja e'” “Ya ra apa-apa dhik mung buku kok seng ceblok, mulakna nek mlaku kuwi sing ati-ati ya dhik” “Inggih mas”.
Kaya biasane aku budhal sekolah jam setengah pitu, ya kaya biasane aku melu pelajarane pak guru lan bu guru. Tapi kok dina iki ora kaya biasane, Sodiq kok gak ketok sedina iki, dadekake khawatir pikiranku, aku mutuske bali sekolah mampir omahe Sodiq.

Tekan ngarep omahe ya beda ora kaya biasane suasanane ki sepi banget kaya gak ana wong. Terus akhire aku takon marang pak satpam, jebule Sodiq ora nek omah kono alias pindhah anyar. Bali saka omahe Sodiq aku lagi kepikiran loh geneya kok Sodiq pindhah kok ora neng kono wae? Ya kenapa kok Sodiq gak ngomong karo aku? Kan aku kancane? Malah aku dadi bingung dewe karo sodiq.

Minggu isuk aku pamitan marang ibuk arep nggoleki alamat omahe Sodiq sing anyar. 1 jam luwih jebule aku muter-muter nglewati dalan sempit-sempit akhire ya ketemu omahe Sodiq batinku. Aku kaget tekan ngarep omahe Sodiq sing biasane urip enak lan kepenak saiki malah urip nek tempat sek kumuh lan sempit.


3. Lomba Cerdas Cermat Sekolah

Nang dina sabtu pas mulih sekolah ana pengumuman babagan arep dianakne LCC utawa “Lomba Cerdas Cermat”, sing arep dianakne dina senin lan panggone neng lantai dhuwur. “Farah, kepiye miturut kowe, kowe arep meloni lomba kuwi ora?” Dafi ngesem, “Miturutku sih lomba kesebut menarik uga sih”, kondho Farah sing banjur mlaku nuju kancane “Dafi, kepiye yen kowe melu lomba kuwi?

Ya ora kanca-kanca”, Dafi lan Farah lungguh “iya aku lan Maya setuju karo usulan Dafi kuwi”, Lia lan Maya njawab barengan “Ehmm, yawis lah aku tak melu lomba kuwi”, Farah ngesem “Nah ngunu, kuwi lagi kancane awake dhewe”, Dafi ndeleng Farah “Eh kanca-kanca awake dhewe menyang perpustakaan yo”, Farah ngajak kabeh kancane “iya ya aku uga pengin maca buku”, kabeh kancane njawab karo barengan.

Farah lan kabeh kancane menyang perpustakaan sekolah, neng tengah dalan Rere pengen lunga menyang toilet “eh Ana aku arep menyang toilat sedhela ya, aku wis ora kuwawa ki” Rere jaluk izin marang Ana “haha, iya cepet menyang toilet kana” Ana nggumuyokake Rere. “nuwun ya”, Rere mlayu karo cepet nuju toilet, banjur Farah lan kancane lunga menyang perpustakaan meneh. “Akhire nganti uga neng perpustakaan”, kandhane Dafi marang kancane kabeh lan dheweke banjur nggoleki buku-buku sing pengen diwaca. 
“Ana, yen kowe arep nggoleki buku, kowe dhisikan ae soale aku pengen nggoleki buku cerita dhisik”, Farah mlaku nggoleki-golek buku sing lagi digoleki. “Iya aku uga pengen nggoleki buku Matematika”, Ana nuli ngesem lan Dini, ngira uga nggoleki-golek buku cerita bahasa jawa kanthi tema pendidikan sekolah dan persahabatan. Rere sing mau menyang toilet mau banjur bali menyang perpustakaan meneh, neng tengah dalan dheweke ndeleng cah wedok sing ayu lan wedok kuwi nuli nyeluke.

Demikan adala contoh cerpen berbahasa Jawa / Cerkak. Semoga bermanfaat..!!

Thursday, August 11, 2022

Capaian Pembelajaran (CP) Mapel Bahasa Daerah (Jawa-Madura) Kurikulum Merdeka Provinsi Jawa Timur

Capaian Pembelajaran (CP) Mapel Bahasa Daerah (Jawa-Madura)
Kurikulum merdeka, bahasa jawa


Salam sehat,,
Bapak Ibu guru hebat, seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Merdeka secara serentak di Tahun Pelajaran 2022/2023, maka perlu disusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum merdeka tersebut. Dokumen yang perlu disiapkan adalah Capaian Pembelajaran / CP dan modul ajar. Selain itu sekolah juga diharapkan menyusun projek penguatan profil pelajar pancasila yang sesuai dengan karakteristik lingkungan belajar dan peserta didik.

Mapel Bahasa Daerah adalah mapel yang masuk dalam Muatan Lokal di Kurikulum Merdeka, sehingga CP tidak disediakan oleh Kementrian. Dinas Pendidikan setempat baik itu Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota berupaya untuk menyusun Capaian Pembelajaran Mapel Bahasa Daerah (Jawa dan Madura). Disamping itu sekolah diharapkan mnyesuaikan CP tersebut dengan kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik.

Berikut adalah Capaian Pembelajaran Mapel Bahasa Daerah (Jawa dan Madura) Fase A,B,C,D,E dan F yang telah disahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan bisa Bapak Ibu pakai sebagai acuan dalam pembelajaran Bahasa Daerah di sekolahan masing-masing.

CP Bahasa Daerah Provinsi Jawa Timur :


File CP bisa diunduh di link berikut : CP BAHASA DAERAH JATIM

Demikian, semoga bermanfaat. 
Aamiin,,,

Monday, January 24, 2022

JINIS LAN STRUKTUR LAYANG (Jenis dan Struktur Surat) - Basa Jawa Kelas 8

LAYANG / SURAT

TEGESE LAYANG

Layang yaiku Alat utawa piranti kang duweni wujud tulisan sing ditulis ing dhuwur Kertas kanggo nyampekake uneg uneg utawa pesen kanggo wong liya lan lumrahe dikirim lewat kantor pos.


Perangane Layang
  • Perangane ( Strukture layang )
1. Papan lan Titi mangsa yaiku panggonan lan tanggal,sasi,tahun layang (kapan surat ditulis )
2. Satata Basa yaiku alamat kang dikirimi layang ( Alamat yg dituju )
3. Salam Pambuka yaiku uluk salame sing ngirim layang marang wong dikirimi layang
4. Adangiyah/ adawiyah yaiku tata kramamne wong sing ngirim surat marang wong sing dikirimi layang, lumrahe yaiku ngaturake sembah sungkem pangabekti.
5. Purwaka Basa yaiku mratelakake kabar keslametan sing ngirim layang lan sing dikirimi layang.
6. Surasa Basa yaiku isine layang
7. Wasana Basa yaiku ucapan njaluk pangapura lan uluk salam panutup.
8. Prepenah yaiku hubungane wong sing dikirimi karo wong sing ngirim contohe "anakmu,putramu,ibumu,"
9. Tapak asma yaiku Tanda tangan
10. Asma terang yaiku jeneng jangkepe wong sing ngirimi layang
  • Jenise Layang
Jenis layang ada 6 dalam bahasa jawa yaitu
1. Layang Iber-Iber
2. Layang Kitir
3. Layang Ulem
4. Layang lelayu
5. Layang Paturan
6. Layang Dhawuh

Layang Iber Iber
Layang iber iber yaiku layang pribadi kang isine bab utawa perkara kang pribadi .
Layang pribadi iku layang non formal, perangane layang pribadi yaiku kaya sing kasebut ing ndhuwur. dene tuladhane layang iber-iber yaiku,



Layang Kitir
Layang Kitir yaiku layang kang isine cekak aos, biasane ing B.indonesia diarani MEMO, Layang kitir duweni perangan bebas , contohe yaiku

Layang Ulem 
Layang Ulem yaiku Ulem kang ngaturake rawuh amarga arep nandang gwe, contohe "ulem nikahan,ulem sunatan" Layang ulem duweni perangan yaiku Titi mangsa, Adangiyah, Isi , Panutup, Prepenah, Asma terang lan Keterangan. Tuladhane layang ulem yaiku


 
Layang Lelayu 
Layang layang yaiku Layang sing ngabari wong kesusahan utawa kepaten (kematiann), duweni perangan : ,satata bahasa,Purwaka, Surasa Bahasa, Wasana Bahasa,Prepenah, tapak asma, Asma terang. Contohhe layang lelayu yaiku



Layang Paturan
Layang Paturan yaiku layang kang isine menehi kabar utawa ngabari sing kudu direteni wong akeh, contohe layang saka Pak lurah kanggo Pak RT kang isine wara-wara lomba Agustusan kang kuudu di wara-wara ake ing masyarakat, biasane duweni perangan bebas , tergantung sapa sing gawe. Tuladha layang paturan yaiku,



Layang Dhawuh
Layang Dhawuh yaiku layang saka dhuwuran(pangkate) marang andhahane contoh, Layang saka pak lurah kang isine rapat .kang duweni perangan Lengkap. Tuladha layang dhawuh yaiku,


Tuesday, July 20, 2021

TULADHA TEKS DESKRIPTIF BASA JAWA

TULADHA TEKS DESKRIPTIF BASA JAWA


BASA JAWA

KUCINGKU

Jenenge kucing ku yaiku Bibi. Aku tresna banget karo kucing iki, Bibi iki kalebu kucing lanang sing biyen daktemokake ing pinggir rattan/dalan. Wulune Bibi alus lan wernane soklat belang putih. Wulu sing alus mau rata wiwit ndhase nganti buntute.

Kabeh wulune wernane cokls la nana putihe ing sikile. Saliyane iku warnane sing coklat nemsemake banget. Brengose Bibi ora dawa-dawa banget.

Sikile Bibi rada endheg dibandhingake karo kucing-kucing lumrahe. Irunge sing pesek lan brengos sing endheg nambahi lucune Bibi. Bibi iki nduweni Bobot 4 Kg, Mripate Bibi wernane ijo ana biru-birune. Ambane mripate Bibi nambahi lucu nalika kaget karo mendelik.

Bibi lebih menyukai tidur seharian di atas keranjang tempat tidurnya. Ketika tidur kenzi lebih suka di elus bagian punggungnya. Saat mengelus, dia memainkan ekornya ke kanan dan ke kiri.Sabendina Bibi iku senengane mung turon ing kranjang sing wis dicepakake. Nalika turu Bibi seneng banget nalika dielus-elus boyoke. Nalika dielus-elus buntute Bibi mesthi megal-megol.

Saben wetenge luwe Bibi mesthi mlayu menyang pawon njujug panggon mangane sing wis dicepakake.Nanging saben Bibi luwe mesthi mengang-mengong ora mandheg sadurunge diwenehi panganan. Bibi nelasngsa banget nalika keluwen nanging ora gage diwenehi mangan. Bibi minangka kucing sing ditresnani banget dening kulawargaku.

BAHASA INDONESIA

KUCINGKU

Namanya adalah Bibi, dia adalah kucing kesayanganku. Dia adalah kucing jantan yang saat itu aku temukan di pinggir jalan. Bibi memiliki bulu yang halus dan berwarna cokelat belang putih. Bulu halusnya menyelimuti tubuhnya dari kepala sampai ke ekornya.

Semua bulunya berwarna cokelat dan berwarna putih pada kakinya. Sedangkan ekornya berwarna cokelat dan sangat menggemaskan. Kumisnya sedang, tidak panjang dan tidak pendek.

Bibi memiliki bentuk kaki yang lebih pendek dari bentuk kaki kucing pada biasanya. Hidungnya kecil dan kumisnya sedikit panjang. Berat tubunya sedang yaitu sekitar 4 kg. Matanya berwarna hijau kekuningan dan sangat lucu ketika dia terkejut sambil membuka matanya lebar-lebar.Ketika lapar dia akan menuju ke tempat makan yang telah disediakan yang disimpan di dapur.

Saat lapar dia akan terus mengeong sampai dia mendapatkan makanannya. Dia akan memasang muka menyedihkan ketika tidak diberi makan. Kucing ini sangat lucu dan sangat disayangi keluarga kami

Saturday, July 17, 2021

MATERI TEKS TANGGAPAN DESKRIPTIF BASA JAWA

TEKS TANGGAPAN DESKRIPTIF

APA TEGESE TEKS TANGGAPAN DESKRIFTIF?

Teks tanggapan dheskriptif yaiku teks kang nggambararake sawijining objek, panggonan, utawa prastawa tartamtu marang pamaca kanthi gamblang lan rinci saengga pamaca kaya-kaya bisa nyawang lan ngrasakake dhewe apa kang diandharake dening panulis.

(teks tanggapan dheskriptif adalah teks yang menggambarkan suatu objek, tempat, atau peristiwa tertentu kepada pembaca dengan jelas dan rinci, sehingga pembaca seperti bisa melihat dan merasakan sendiri apa yang dijelaskan penulis)

TUJUWAN TEKS TANGGAPAN DESKRIPTIF

Tujuan Teks tanggapan Dheskriptif yaiku Kanggo ngandharake obyek marang sing maca saengga wong-wong sing maca kaya-kaya melu ngrasakake, ngrungokake, ndeleng utawa ngalami tumrap apa sing wis didheskripsekake dening penulis.

(tujuan teks tanggapan yaitu untuk menjabarkan objek kepada pembaca sehingga orang yang membaca seperti ikut merasakan, mendengarkan, melihat atau mengalami terhadap apa yang sudah dideskripsikan oleh penulis.)

TITIKANE TEKS TANGGAPAN DESKRIPTIF
(Ciri-ciri teks tanggapan deskriptif)

1. Nggambarake panggonan, wong, barang, kahanan nganggo pancadriya.

(menggambarkan tempat, orang, barang, keadaan menggunakan panca indra)

2. Tujuane supaya wong sing maca kaya-kaya melu ngrasakake utawa ndeleng dhewe marang obyek sing didheskripsekne

(bertujuan agar orang yang membaca seperti merasakan atau melihat sendiri terhadap objek yang dideskripsikan)

3. Ciri-cirine obyek diterangake kanthi gamblang lan rinci.

(ciri-cri objek diterangkan sacara terbuka dan lebih terperinci)

STRUKTUR TEKS TANGGAPAN DESKRIPTIF



a. Idhentifikasi yaiku perangan utawa bagean sing nerangake titikan (ciri), barang, tandha lan sapanunggalane.

(idhentifikasi yaitu bagian yang menerangkan ciri-ciri, barang, tanda dan yang lainya)

b. Klasifikasi/dhefinisi yaiku perangan sing mantha-mantha manut jinis utawa klompoke

(klasifikasi/definisi yaitu bagian yang membagi menurut jinis atai kelompoknya)

c. Dheskripsi bagean yaiku perangan sing nerangake gegambaran sing luwih rinci.

(deskripsi bagian adalah bagian yang menjelaskan gambaran yang lebih rinci)



Friday, June 4, 2021

Pambarepe Pandhawa - Raden Puntadewa

Pambarepe Pandhawa - Raden Puntadewa
Raden Puntadewa
Prabu Puntadewa iku ratu ing Amarta (Ngamarta), Dasanamane : Prabu Yudhistira, Darmakusuma, Darmaputra, Darmawangsa, Darmaraja, Gunatalikrama, Sadha Dwijakangka, Sang Ajathasatru.
Garwane asma Dewi Drupadi, mbakyune dewi Wara Srikandhi, putrane Prabu Drupada saka Negara Pancala. Saka Sang Prameswari Dewi Drupadi iki, Prabu Puntadewa peputra kakung siji, kekasih Raden Pancawala.
Prabu Puntadewa ratu watak pandhita. Watake sabar lan ikhlas, lila donya lila ing pati. Apa bae barang darbeke, yen ana sing njaluk mesthi diparingake. Nadyan segenge pisan yen ana sing njaluk, mesthi dililakake. Sajake urip ora tau ngapusi (goroh) lan ora nate perang. Sanadyan dipeksa dening Prabu Kresna supaya kersa goroh kanggo kemenangane Pandhawa, nalikane Pandhita Drona jumeneng Mahasenapati ing perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa tetep ora kersa. Prabu Puntadewa tetep ngendika jujur, “ingkang pejah Hesthitama”. Mung olehe ngendika “Hesthi” lirih, “Tama”ne banter. Satemah dadi jalaran Pandhita Drona bingung, lan bisa dipateni dening Raden Trusthajumena. Amarga saking banget ngati –atine, ora kersa gawe seriking liyan, lan ora kersa goroh, mula Prabu Puntadewa digambarake wong sing ludirane seta. Saking sucine uripe.

Pusakane Prabu Puntadewa wujud kitab/buku, jenenge Layang Kalimasada Pustaka Jamus. Prabu Salya klakon seda ing paprangan merga pusaka iki. Kejaba iku, pusaka liyane wujud tumbak lan payung, jenenge tumbak Karawilang lan payung Tunggulnaga.
Prabu Puntadewa iku ajejalok Yudistira iya prabu Dwijakangka utawa sinebut uga Prabu Gunatalikrama.

Prabu Puntadewa kagungan pusaka arane jimat kalimasada. Prabu Puntadewa kena diarani manungsa setengah dewa. Geneya Prabu Puntadewa diarani setengah dewa amarga Prabu Puntadewa kagungan ciri-ciri kaya Dewa, kayata Getihe putih, Sipate sabar, ora kagungan mungsuh, lan tansah tresna marang karukunan.

Prabu Puntadewa iku garwane Dewi Drupadi, kagungan putra iku asmane Raden Pancawala. Prabu Puntadewa iku putrane Prabu Pandhu Dewanata lan Dewi Kunthi Nakibrata.

Prabu Puntadewa iku ratu ing Amarta kang sabar lan mboten seneng perang. Nalika perang gedhe Bratayuda, Prabu Puntadewa dipekso mandeg Senopati tanding karo Prabu Salya saka Mandukara. Prabu Salya gugur, Prabu Puntadewa kang unggul

Raden puntadewa inggih menika peranganing pandhawa ingkang sepuh piyambak. Putra Prabu Pandhu. Narendra ing ngastina. Piyambakan kawentar minangka putra ingkang saleh, jujur, sabar, tata krami, lila sregep, saha mituhu. Seserepan ingkang dipuntamekaken prekawis agami. Pramila ingkang dipunremeni prekawis kesaenan, kajujuran, sarta lila legawa. Minangka putra pambarep Pandhawa tansah bekti kaliyan tiyang sepuh sarta sanget asihipun dhumateng para rayi piyambakipun tansah momong para rayi kanthi raos asih. Pramila Raden Puntadewa tansah dipuntresnani kaliyan para sesepuh, dipunajeni kaliyan para rencang, saha dipunbekteni dening para ingkang anem. Awak-awakipun kuning gumrining, dedeg lencir, saha ukuranipun tanggung. Pasuryanipun bagus ules pethak mratandhani sucining manah.

Busana saha rerenggan ingkang dipunagem wujud gelung keeling. Sumping waderan, kalungmenggah, kelatbau nagamangsa, gelangkana ganda, ali-ali gunung sepikul, kampuh bathik limar lapis, kroncong ngrangenan.

Sumber : caritawayang.blogspot.com


Wuragile Pandhawa - Raden Sadewa

Wuragile Pandhawa - Raden Sadewa
Raden Sadewa


Raden Sadewa (Sahadewa) putrane Prabu Pandhu lan Dewi Madrim. Satriya wuragile Pandhawa. Kembarane Raden Sadewa asmane Raden Nakula. Wujude Nakula lan Sadewa kembar, kembar rupa, swara, lan busana.

Nalika timure, Raden Sadewa kekasih Raden Tangsen, kasatriyane Sadewa ing Baweratalun (Bumiretawu).

Sedulure beda ibu ana telu, yaiku : 1. Prabu Puntadewa, 2. Raden Wrekudara, 3. Raden Janaka. Puntadewa, Wrekudara, Janaka, Nakula, lan Sadewa, sinebut kadang Pandhawa, saka tembung linggane Pandhu lan hawa tegese putra Pandhu.
Raden Sadewa titising bhatara Aswin, dewa tabib. Wiwit cilik digulawenthah dening Dewi Kunthi. Wujude Raden Sadewa satriya bagus, mbranyak pasemone. Watake jujur lan bekti marang sedulur tuwa.

Ing lakon Babad Alas Mretani, Raden Tangsen bisa ngasorake yudane Jim Sadewa (riwayat liya sinebut Ditya Sapulebu), satemah Jim Sadewa mau masrahake kasatriyane, yaiku Baweratalun lan paring Aji Pramanajati kang dayane bisa ngerti sadurunge winarah.
Kanthi dayane Aji Pramanajati, Raden Sadewa bisa mbatang sayembara cangkriman “sejatining lanang, sejatining wadon”. Banjur didhaupake klawan Dewi Srengginiwati, putrane Prabu Bhadawanganala, ratu ing gisik samudra. Sabanjure peputra Sidapeksa.

Ing lakon Sudamala, Raden Sadewa sing ragane kapanjingan Bathara Guru, bisa ngruwat Bathari Durga. Sang Bathari banget panarimane marang Raden Sadewa. Dening Sang Bethari Raden Sadewa pinaringan asma “Sudamala” tegese ngresikake rereged. Sarta kadhawuhan nggarwa Dewi Padapa, anake Begawan Tambrapetra ing padhepokan Prangalas.

Sumber : caritawayang.blogspot.com

Pandhawa nomer papat - Raden Nakula

Pandhawa nomer papat - Raden Nakula
Raden Nakula


Raden Nakula putrane Prabu Pandhu lan Dewi Madrim. Satriya sumendhining Pandhawa (kakang ragil). Kagungan rayi siji tunggal rama ibu, kekasihe Raden Sadewa. Wujude Nakula lan Sadewa, kembar. Kembar rupa, swara, lan busana.

Nalika timure, Raden Nakula kekasih Raden Pinten, dene Raden Sadewa kekasih Raden Tangsen. Kasatriyane Raden Nakula ing Sawojajar.

Sedulure beda ibu ana telu, yaiku : 1. Prabu Puntadewa, 2. Raden Wrekudara, 3. Raden Janaka. Puntadewa, Wrekudara, Janaka, Nakula, lan Sadewa, sinebut kadang Pandhawa, saka tembung linggane Pandhu lan hawa tegese putra Pandhu.
Manut layang Purwacarita, garwane Raden Nakula sesilih Dewi Srengganawati, putrane Sang Hyang Badhawanganala. Karo Dewi Srengganawati iki, Raden Nakula peputra siji sesilih Dewi Sri Tanjung.
Manut layang Pustaja Raja, garwane Raden Nakula sesilih Dewi Suyati, putrane Prabu Kridhakerata, ratu ing Awuawulangit. Nakula klakon nggarwa Dewi Suyati sawise bisa ngalahake Indrakesata. Karo Dewi Suyati iki, Raden Nakula peputra loro, yaiku: Raden Pramusinta lan Dewi Pramuwati.
Wujude Raden Nakula satriya bagus, mbranyak pasemone. Watake jujur lan bekti marang sedulur tuwa.
Ngarepake pungkase perang Bharatayuda, Raden Nakula lan Sadewa disraya dening Prabu Kresna supaya sowan ing ngarsane Prabu salya (uwake / pakdhene) kanthi ngliga keris, pasrah pati urip. Dhawuh iki ditindakake, satemah Prabu Salya mblakakake isen – isening atine lan nyuwun tandhing mungsuh Prabu Puntadewa. Satemah dadi srana menange Bharatayuda tumrap Pandhawa.

2)*

Nakula iku sawijining paraga Mahabharata. Nakula artine ‘’bisa nguwasabi awake dhewe’’. Ing pedhalangan, nalika isih enom Nakula nganggo jeneng Pinten. Pinten iku sejatine jeneng tanduran kang godhonge bisa kanggo obat. Kaya jenenge, Nakula lantip ing obat-obatan amarga tinitisan Batara Aswi , dewane tabib. Satriya iki salah sijine Pandhawa lan nduwe kembaran kang jenenge Sadewa. Beda karo Yudhistira, Werkudara, lan Janaka, Nakula lan Sadewa iki lair seka Dewi Madrim. Nalika Pandhu palastra, Dewi Madrim bela pati lan kembar iki lair seka wetenge kang suwek dening keris.

Raden Nakula kuwi satriya kembar kemanikan. Sedulur kembare aran Raden Sadewa iya Sahadewa. Sekarone putrane nata ing Astina, Prabu Pandhudewanata, lan mijil saka garwa Dewi Madrim, kadang enome Raden narasoma iya Prabu Salya nata ing Mandaraka.Ing Mahabharata, Nakula artine ‘’bisa nguwasabi awake dhewe’’. Ing pedhalangan, nalika isih padha cilik-cilik, Nakula kuwi arane Pinten, lan kembarane Sadewa aran Tangsen. Pinten iku sejatine jeneng tandhuran kanmg godhonge bisa kanggo obat, Kaya jenenge, Nakula lan sadewa lantip ing babagan obat-obatan amraga satriya sakloron kuwi titise dewa kembar, Bathara Aswan lan Aswin, dewane tabib. Satriya sakembaran iku klebu sedulur nunggal rama seje ibu yen karo Prabu Puntadewa, Werkudara lan Arjuna. Lan satriya lima kasebut kawentar kanthi aran Pandhawa. Kekarone setya lan bekti banget marang para kadhang sepuhe, senadyan seje ibu. Prabu Puntadewa, Werkudara, lan Arjuna mijil saka ibu Dewi Kunthi.

Sumber : caritawayang.blogspot.com

Panenggake Pandhawa - Raden Werkudara

Panenggake Pandhawa - Raden Werkudara
Raden Werkudara


Raden Werkudara duwe pusaka aran Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Ian Gada Lambita¬muka. Aji-ajine Bandung Bandawasa, Ungkal bener, Blabag Pengantol-antol, Bayu Bajra.

Kacarita laire Bratasena. Nalika bayi lair awujud bungkus. Kabeh gegaman ora tumama. Kang bisa mbedhah bungkus mung Gajah Sena. Bareng wis bedhah, bayi diidak-idak, ditlale, digadhing malah saya gedhe. Gajah Sena ditamani kuku Pancanaka, mati sanalika. Suksmane nyawiji karo Bratasena.

Bratasena utawa Werkudara iku ora bisa basa marang sapa wae. Dadi yen micara tansah ngoko. Sing dibasani mung Sanghyang Wenang lan Dewa Ruci. Sanajan mangkono Werkudara duwe watak setya tuhu marang guru, bekti marang ibu, teguh ing janji, bela bebener, mbrastha angkara, dhemen tetulung, tresna marang kadang, adil. Watak setya marang guru, dituduhake nalika dheweke diutus dening gurune Pendhita Durna goleh banyu Perwitasari ing tengah alas ing telenging segara. Kang sajatine Werkudara dialap patine, dijlomprongake. Nanging amarga setya bekti marang guru. Werkudara malah antuk nugraha, bisa ketemu marang guru sejati (Dewa Ruci), kang mahanani Werkudara bisa pinter tanpa guru maneh.

Tandha bektine marang ibune dibuktekake, kanthi merjaya Dursasana, getihe kanggo jamas rikmane Kunthi lan sirahe kanggo keset dening Dewi Kunthi. Tresna marang kadang, kabeh kadange tansah dibela lamun nuhoni bebener. Nanging yen luput, sanadyanta anake dhewe bakal diajar, kaya nalika Gathutkaca maling Pregiwa. Jebule Gathutkaca mung dipaeka sebab sing maling Gathutkaca palsu. Dhemen tetulung upamane nulungi Ratu Wiratha (Prabu Matswapati).
Ing perang Bratayuda Werkudara dadi agul-aguling Pandhawa. Werkudara kang bisa mateni Dursasana, Sengkuni lan Duryudana. Sawise perang Bharatayuda, Parikesit wis jumeneng nata, bebarengan marang sedulur Pandhawa wis jumeneng nata, bebarengan marang sedulur Pandhawa liyane, ninggalake praja. Werkudara tiwas sumusul Sadewa, Nakula, lan Harjuna. Werkudara tiwas angka papat amarga nalika uripe seneng mangan, rada kasar, lan ora bisa basa.

Wosing budi pekerti:
1. Duwea watak satriyatama: luhur ing budi, seneng tetulung, adil, wani ing bebener, mbrastha angkara murka!
2. Bektia marang wong tuwa, luwih-luwih marang ibu!
3. Bektia marang guru!
4. Tresna asih marang sedulur.
5. Darbea jiwa satriya kang dadi bentenging negara!

Sumber : caritawayang.blogspot.com

Panengahe Pandhawa - Raden Janaka


Panengahe Pandhawa - Raden Janaka
Raden Janaka

Ing jagad ora ana tandhingane bab kebagusane, amarga Janaka minangka simbol amal becik. Amal becik ora bisa pisah klawan swarga (Jannah). Janaka saka tembung jannahuka, tegese swargamu. Mula sapa sing kepengin mlebu swarga, kudu tumindak becik lan nindakake tuntunaning agama kanthi temen. Raden Janakan duweni jeneng liya yaiku Permadi, Arjuna, Ciptaning, Mintaraga.

Raden Janaka minangka panengahe pandhawa, tegese yaiku putra kang nomer telu saka limang sedulure pandhawa. Janaka putrane Pandhudewanata karo garwane Dewi Kunthi.

Arjuna satriya digdaya sekti mandraguna, polatan luruh jatmika, prigel ing samubarang, seneng tetulung marang sapa bae, mula ditresnani dening sapa bae. Ora mokal yen garwane pirang – pirang. Bojo akeh iki tegese Janaka ditresnani dening sapa bae. Yen priya ngondhangake kasudibyane, yen wanita ngondhangake sigiting citra.

Arjuna kejaba sugih bojo, uga sugih kawruh (ilmu), sugih gaman lan mantran, sugih guru. Meguru marang Begawan Padmanaba antuk aji telung warna, yaiku : 1. Aji Sepiangin, dayane aji yen kawateg, kebating lakune Arjuna tan prabeda kaya kebating angin. Lakune bisa ngungkuli lakuning barat, 2. Aji Malayabumi, Arjuna bisa ilang sapalungguhan, 3. Aji Sempaliputri, Arjuna bisa manijing ajur ajer.

Pusakane utawa gamane janaka pirang – pirang. Kang asring digunakake : Keris Pulanggeni, Kalanadhah, Panah Merdaging, Rodha Dhadhali, Haryas Sangkala, Sarutama, Pasopati.

Sumber : caritawayang.blogspot.com

Wednesday, May 5, 2021

Materi Artikel mawa Basa Jawa (SMA Kelas X)

Materi Artikel Basa Jawa

materi artikel basa Jawa


Teges Artikel

Artikel iku ditulis kanggo medharake panemune sawijine penulis adhedasar sawijine fakta/data panemune wong liya miturut logika-ne dhewa. Artikel iku isine opini kang ngonceki kanthi tuntas sawijine masalah tartamtu kang sipate aktual lan utawa kontoversial kanthi ancas menehi ngerti (infomatif), mengaruhi, lan (persuasif argumentatif), utawa nglipur kang maca (rekreatif)

Stuktur artikel

Kanthi umum struktur utawa perangan kang diduweni artikel yaiku:
- Irah-irahan
- Paragraf pambuka
- Paragraf isi
- Paragraf panutup

Bab kang wigati jrone panulisae artikel
1. nemtokake/milih tema
2. nemtokake irah-irahan, aja nganti kedawan cukup 3-5 tembung (bisa uga ditemtokake keri)
3. gawe alinea sepisan
4. ngrembakake tema dadi pirang-pirang alinea andharan (alinea penjelas gumatung dawa cendhake tulisan)
5. gatekna format/gaya penulisan (ilmiah utawa populer)
6. eksploitasi data/referensi penting
7. duduten panemu jrone alinea panutup
8. edit maneh draf wiwitan (judul bisa uga ditemtokane wektu iki)
9. draf pungkasan artikel

Jinis Artikel

Kanthi umum artikel iku bisa dibedakake dadi 2, yaiku artikel ilmiah lan populer. Tembung ilmiah nduweni teges yaiku miturut ilmu pengetahuan; adhedhasar syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Dene populer nduweni teges yaiku dikenal lan disenengi wong akeh (umum); miturut kebutuhan masyarakat umum; gampang dimangerteni lan disenengi wong akeh.

Artikel ilmiah iku asipat empirik, yaiku adhedhasar asil panliten kang ditindakake. Artikel iki ora dimot ing sawernane media masa, amung ing media kusus kaya ta jurnal kampus. Tuladhane yaiku laporan asil panliten, jurnal, makalah. Artikel populer akeh dimot ing sawernane media masa, bisa cetak utawa elektronik. Kanggo nemokake artikel iki luwih gampang. Ing ngisor iki ana tuladha pethikan jurnal, mangga diwaos.

Tuladha Artikel Basa Jawa

Kabudayan Jawa Bisa Gripis Alon-Alon

Beteng bakuh kukuh sarta pengkuh kang asring ngupeng omah gedhong magrong-magrong iku mung dumadi saka tharik-tharike bata, tumatane watu-watu. Utawa malah mung saderma tumpukane brangkal. Iku mung wewujudane, bleger (fisik), mung barang bisu, wewagunan. Nanging beteng mau bisa uga minangka pratandha, lambang sanepa, panyaruwe, dimeling marang fenomena jaman. Beteng iku bisa dadi penagamn kang diakone bisa nuwuhake ketentreman kupengan beteng mau. Wewujudan utawa anane beteng tumprap omah utawa gedhong-gedhong kang mapan ana ing kutha-kutha gedhe iku wis akeh cacahe. Lumrah-lumrah wae ora nistha, ora ala.

Nanging yen kita kabeh gelem blaka, jujur, lugu, lan walaka, saktemene meh kabeh omah utawa gedhung mligine kang mapan ing kutha-kutha gedhe, mawa beteng dhewe-dhewe. Apa maneh tumrap panguripan kutha gedhe kang wis manut cara modhern. Cara jaman saiki kang wis pluralis, maneka werna lan rasa. Embuh iku omah (gedhong magrong-magrong). Embuh kang biasa-biasa wae, embuh tumrap omah kang sumpeng-rumpeg, cilik-cilik.

Kabeh yen digrayangi kanthi rasa, satemene kabeh wis ora akeh kang nganggo beteng, senajan ora ana wewujudane, ora ana barang lan bangunan fisike. Kahanan kang kaya mengkono iku satemene wis bida rasakake. Wis bisa kathitik. Utawa mung kandheg ing pangangen-angen. Jalaran panguripane mangunsa ing tengah-tengah kahanan kang majemuk mau pancen kapara dadi “elu, elu, gue”. Manungsa siji lan sijine wis padha iwut mikirake awake dhewe-dhewe (luwih dhisik). Sabanjure lagi mikirake kulawarga, banjur familine, margane. Sateruse lagi tangga, bebrayan ing masyarakat.

Pakulinan sanjan-sinajan, kaya-kaya mung tansah eman bakal ngilangi wektu utawa kalodhangan kang dianggep luwih wigati. Wigati tumprap pribadi, utawa kulawarga. Yen ora kaoyak pakaryan kanggo golek kabutuhan, yen bengi wis rumangsa sayah, butuh ngaso, butuh kumpul karo kulawarga.

Mula sanajan, jagong jinagong ing tengah-tengahe masyarakat plural mau banjur kaya-kaya wis dianggep bakal mbuwang-mbuwang wektu wae, dianggep ngrugekake. Banjur sanjan-sinajan, jagong-jinagong kanthi gayeng sajake pancen diendhani. Iki sajake dadi fenomena ing jaman saiki. Nanging, mesthi wae isih arang kang gelem ngakoni, kapara malah kipa-kipa yen diarani kaya mengkono.

Saupama kanyatan kaya mengkono mau pancen ora dianggep kliru, kapara luwih seneng ndekem angkrem nggedhegrek-magrok ing omah wae, ketimbang mlebu sanjan-sinanjan. Sapa sing aruh ing jaman kang wis sarwa kongkuren, jor-joran, sekongkol-sekongkolan iku kaya-kaya malah sansaya krasa ampang. Mung dadi kembang-kembang lambe kang satemene. Supaya isih dianggep grapyak semanak. Anane sanjan-sinajan ing tengah-tengahe masyarakat plural dadi mung saderma wungkus, saderma gebyar njaba. Mung wadhah kang kala-kala merbawani dideleng saka njaba. Nanging hakikate, niyate, isine, krentege ati kang paling jero kala-kala isih ngambang. Durung mandhes.

Gladhen Soal Basa Jawa kelas X (SMA) materi Artikel

Gladhen Soal Basa Jawa kelas X materi Artikel

1. Jinise karangan ana 5 yaiku....
a. narasi, dheskripsi, geguritan, argumentasi, lan persuasi
b. narasi, dheskripsi, eksposisi, argumentasi, lan persuasi
c. narasi, nasihat, crita, petuah, lan eksposisi
d. narasi, dheskripsi, eksposisi, argumentasi, lan legendha 
e. eksposisi, legendha, mitos, narasi, persuasi
a. Fiksi
b. Non fiksi
c. Rekan
d. Imajinatif
e. khayalan
3. Perangan ing ngisor iki sing ora kalebu strukture artikel yaiku...
a. Pada pambuka
b. Pada isi
c. Pada jangkepan
d. Irah-irahan
e. Salam
 
4. Bab kang diandharake sajrone artikel yaiku bab kang gegayutan karo....
a. Crita rakyat
b. Crita fiksi/imajinatif
c. Crita Kanyatan/ fakta
d. Crita carangan
e. Crita mitos
 
5. Reriptan ing ngisor iki kang kalebu artikel yaiku....
a. Pawarta
b. Fabel
c. Crita babad
d. Ramalan
e. Primbon
 
6. Karangan narasi nduweni teges....
a. Karangan kang isine menehi gambaran kahanan samubarang.
b. Karangan kang isine menehi katrangan salah sijine masalah.
c. Karangan kang nyritakake samubarang kanthi runtut. 
d. Karangan kang tujuwane mbuktekake samubarang kanthi menehi argumen.
e. Karangan kang ngrembug khayalane crita

7. Karangan kang tujuwane mbuktekake samubarang kanthi menehi argumen minangka tandha bukti saengga sing padha maca ngakoni yen samubarang mau bener kaya sing dikandhakake. Katrangan kasebut kalebu tegese karangan....
a. narasi
b. dheskripsi
c. persuasi
d. argumentasi
e. eksposisi








a. Irah-irahan
b. Pada pamungkas
c. Pada isi/panjelas
d. Pada panutup/dudutan
e. Pada panutup








a. Kanggo hiburan
b. Kanggo seneng-seneng
c. Menehi informasi utawa katrangan ngenani sawijine bab
d. Kanggo sarana medharake imajinasi
e. Kanggo gegojegan


10. 
Mula saiki ayo padha mbrantas lan nyegah nyamuk demam berdarah kanthi njaga reresikan. Sabab penyakit demam berdarah iki bisa nuwuhake bebaya kang gedhe. Akeh wong gedhe-cilik padha ninggal donya amarga iki. Gatekna unen-unen iki. “Luwih becik nyegah, tinimbang ngobati”.
Saka wacan kasebut ana unen-unen “luwih becik nyegah, tinimbang ngobati”, unen-unen kasebut nduweni teges....
a. Nduwe luwih apik tinimbang ora nduwe.
b. Luwih apik nduwe obat timbang ora lara.
c. Luwih becik mangan timbang luwe.
d. Nyegah luwih apik timbang nambani. 
e. Nyegah ora apik, luwih apik ditambani

Wednesday, April 28, 2021

Materi Tata Tulis Aksara Swara

Materi Tata Tulis Aksara Swara

Aksara Swara beda karo aksara murda. Aksara murda kanggo nulis pakurmatan yaiku nulis jeneng pawongan, nulis papan panggonan (desa, kutha, kantor), nulis gelar pakurmatan. Aksara swara dienggo nulis vokal (a,i,u,e,o) saka basa manca sing kudu dicethakake. Basa Jawa kadhangkala uga ngadhopsi basa manca/luar negri. tuladhane kaya basa arab lan basa inggris. Kanggo mbedakake basa serapan saka manca mula perlu ditulis nganggo aksara swara kang cacahe ana lima.

Cacahe aksara swara ana 5 yaiku :










Gunane aksara swara kanggo nulis tembung manca kang dicethakake, kayata:














Aksara swara ora kena dadi pasangan. Manawa dumunung ing samburine wanda sigeg, aksara sesigeging wanda iku kudu dipangku. Tuladhane:










Aksara swara iku ora kena ditrapi sandhangan swara. Tuladhane:




Materi tata tulis Aksara Murda

 Aksara Murda lan Aksara Swara

Nulis ukara migunakake aksara Jawa kuwi pancen gampang-gampang angel, gampang yen wis ngerti tata cara lan pepeling-pepeling kang kudu digatekake, angel yen durung ngerti lan durung paham ngenani tata cara lan pepeling jrone nulis aksara jawa.

Dene pepeling kang kudu digatekake ing antarane:

  1. Saben nulis ukara kudu diwiwiti nganggo pada adeg-adeg (?) lan dipungkasi nganggo pada lingsa utawa lungsi (,utawa.). Pada lingsa (,) dienggo nalika mungkasi ukara kang mawa pangkon dene pada lungsi (.) dienggo nalika mungkasi ukara kang ora migunakake pangkon.Pada lingsa uga kanggo tandha koma.






Aksara Murda

Murda= sirah
Aksara Murda = aksara sirah, aksara sesirah

Aksara Murda iku satemene ora ana.Wondene kang lumrahe diarani aksara murda iku, utawa kang dianggep minangka aksara murda iku sejatine aksara Mahaprana, yaiku aksara kang pancene kudu diucapake kanthi abab akeh; kosok baline aksara alprapana, yaiku aksara kang diucapake lumrah (kanthi abab saithik). Cacahe aksara murda ana wolu, yaiku:











Aksara murda mung kanggo ing tata-prungu, tegese kanggo pakurmatan. Aksara murda ora kena dadi sesigeging wanda. Ing jaman biyen kang lumrah ditulis nganggo aksara murda yaiku asmane para luhur, jejuluke lan padununge, minangka pakurmatan. 

Tuladhane kayata:

Dewi Sinta putrine prabu Janaka ratu nagara Mantili.





Saiki jaman demokrasi, prayogane kabeh jenenge wong lan jenenge titah kang tata carane urip kaya manungsa, kayata raseksa, wanara, lan sapanunggalane kang kasebut ing carita padhalangan lan liya-liyane, katulis nganggo aksara murda. Cukup nganggo aksara murda siji wae, aksara kang ngarep dhewe. Yen aksara sing ngarep dhewe ora ana murdane, ya aksara mburine, yen mburine ora ana ya mburine maneh. Tuladhane:







A. Wangsulana pitakon ing ngisor iki kanthi patitis!
1. Pira cacahe aksara murda? Sebutna lan tulisen aksarane!
2. Apa gunane/fungsine aksara murda? Andharna panemumu!
3. Kepriye paugerane/aturane nulis aksara murda? Andharna panemumu!
4. Owahana tembung ing ngisor iki nganggo aksara Jawa lan Aksara Murda!
a. Kutha Ponorogo
b. Taman Bungkul
c. Dhinas Pendhidhikan 
d. Joko Sampurno
e. Prabu Siliwangi
5. Owahana ukara ing ngisor iki nganggo aksara Jawa lan Aksara Murda!
a. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tindak dhateng kutha Mojokerto.
b. Prabu Brawijaya ratu kang kondhang ing Majapahit.










Wednesday, March 17, 2021

GLADHEN SOAL BASA JAWA PENILAIAN TENGAH SEMESTER GENAP KELAS 8

GLADHEN SOAL BASA JAWA PENILAIAN TENGAH SEMESTER GENAP KELAS 8

Wacanen kanthi patitis pitakon-pitakon ing ngisor iki, banjur wangsulana kanthi milih salah siji wangsulan sing paling bener !

1. Salah sijine alat / piranti kanggo ngungkapake kekarepan ati kanthi cara ditulis diarani :
a. geguritan
b. tembang macapat
c. cerkak
d. layang

2. Layang kang isine cekak/ ringkes lan ditulis ing dluwang lan kudu ditengeri diarani layang :
a. iber-iber
b. ulem
c. kitir
d. Paturan

3. Tuladhane layang kitir yaiku …..
a. undangan manten
b. surat perintah
c. resep dokter
d. undangan sunatan

4. Layang lkang isine undhangan pawongan kang lagi arep duwe gawe diarani layang …..
a. iber-iber
b. dhawuh
c. ulem
d. paturan

5. Tuladhane layang dhawuh yaiku …..
a. surat perintah
b.undangan manten
c. resep dokter
d. nota

6. Tuladhane layang ulem yaiku …..
a. nota
b. surat perintah
c. resep dokter
d. undangan manten

7. Perangan layang kang mratelake marang sapa layang ditujokake utawa isi tujuan layang kang ditulis /dikirimakediarani …..
a. titi mangsa
b. adangiyah
c. satata basa
d. paprenah

8. Perangane layang sing mratelake ing ngendi lan kapan layang kasebut ditulis / digawediarani …..
a. titi mangsa
b. adangiyah
c. satata basa
d. surasa basa

9. Gatekna tuladha ing ngisor iki :

Katur
Mbak Erna
Ing ndalem

Mbak , ngapunten aku sore iki during bisa mbalekake buku amarga awaku lag lungkrah amarga mau kudanan, Insya Allah sesuk awan tak ampirke.

Malang, 20 Nopember 2014

Santi

Tuladha layang ing dhuwur kalebu jenise layang …….
a. iber-iber
b. ulem
c. kitir
d. Paturan

10. Gatekna tuladha ing ngisor iki :

Kanthi serat punika kula ngaturi pirsa bilih kawontenan kula ing Malang , tansah pinaringan rahayu wilujeng ing pangayomanipun Gusti ingkang Maha Kuwaos, Ingkang kulasuwun mugi - mugi kawontena bapak dalah ibu saha kaluwarga ing Kediri semanten ugi.

Tuladha perangane layang ing dhuwur kalebu perangan …..
a. titi mangsa
b. adangiyah
c. purwaka basa/pambuka
d. paprenah

11. Gatekna tuladha ing ngisor iki :

Wusana cekap semanten atur kula, mboten kesupen kula nyuwun pangestunipun badhe UAS bilih wonten kirang langkungipun atur, kula nyuwun lumuturing sih samudra pangaksami.

Tuladha perangane layang ing dhuwur kalebu perangan :
a. wasana basa /panutup
b. adangiyah
c. paprenah
d. titi mangsa

12. Gatekna pethikan layang ing ngisor iki :

Ngenani suratmu wis dak tampa wingi sore ibu wis transfer Rp. 175.000 kanggo mbayar kegiatanmu lan kanggo tambahan sangu mulih. Ibu mung pesen mengko yen wis rampung kegitanmu banjur prei sekolah kowe enggal balia amarga bapak ibu lan kaluarga ing Kediri padha kangen. Lan ati – ati aja sembrana.

Pethikan perangane layang ing dhuwur kalebu perangan :
a.titi mangsa
b. adangiyah
c. paprenah
d. surasa basa

13. Tembang macapat sing duwe watak seneng lan tresna asih yaiku…
a. Kinanthi
b. Pangkur
c. Asmaradana
d. Dhandhanggula

14. Macem-maceme paugeran (aturan) tembang macapat yaiku…
a. Guru lagu, guru wilangan, guru gatra
b. Guru lagu, guru wilangan, guru swara
c. Guru gatra, guru wilangan, guru basa
d. Guru wilangan, guru gatra, guru lumaksita

15. Guru wilangan yaiku…
a. Cacahe gatra saben sapada
b. Cacahe swara saben sagatra
c. Cacahe wanda saben sapada
d. Cacahe wanda saben sagatra

16.  Kinanthi

Marang anak lan putuku,
Sinaua sing taberi,
Ngurmati ibu lan bapa,
Ndonga ngibadah tan lali,
Dadya tunasing nagara,
Jer iku laku utami.

Guru gatra tembang kasebut, yaiku...
a. 5
b. 7
c. 6
d. 8

17. Kinanthi

Marang anak lan putuku,
Sinaua sing taberi,
Ngurmati ibu lan bapa,
Ndonga ngibadah tan lali,
Dadya tunasing nagara,
Jer iku laku utami.

Guru lagu lan guru wilangane, yaiku...
a. 8u, 8i, 8a, 8a, 8i, 8a
b. 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i
c. 8u, 8i, 8a, 7i, 8a, 7i
d. 7u, 8i, 8a, 7i, 8a, 8i

18. Pitutur sing jangkep ing tembang kasebut yaiku...
a. Kita kudu sinau sing taberi
b.Kita kudu ngurmati wong tuwa
c. Kita kudu ndonga lan ngibadhah
d. Kta kudu sinau, ngurmati wong tuwa, ndonga lan ngibadhah

19. Ing ngisor iki kang kalebu jenise tembang macapat sing bener, yaiku...
a. Gambuh, Kinanthi,Prau layar
b. Pocung, Sinom, Gambang suling
c. Gambang suling, Ilir-ilir, Prau layar
d. Pocung, Gambuh, Dhandhanggula

20. Kidang Talun, kalebu jenise tembang...
a,. Macapat
b. Dolanan
c. Pop jawa
d. Campur sari

21. Supaya gampang nembang sekar macapat dibutuhake cakepan tembang. Cakepan tembang yaiku….
a. notasi vocal
b. syair tembang
c. jinising tembang
d. metrum tembang

22. “Nelangsa, ngeres-eresi, sedih” lan “mahyaaken raos panalangsa”, iku kalebu watak lan gunane tembang….
a. Mijil
b. Durma
c. Sinom
d. Maskumambang

23. Salah siji watak tembang macapat “pangkur” ing ngisor iki kangbener yaiku….
a. keras, nepsu, semangat
b. luwes, gumbira, endah
c. sereng, nepsu, gandrung
d. asih, prihatin, pangajab

24.. Salah siji gunane tembang macapat “durma” ing ngisor iki yaiku….
a. mituturi, pratelan tresna
b. mahyaaken raos panalangsa
c. piwulang, wewarah
d. nggambaraken tiyang nepsu, perang

25. Pangkur

Mingkar mingkuring angkara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinuba sinukarta
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap ing tanah Jawa
Agama ageming aji

Guru lagu lan guru wilangane, yaiku...
a. 8i, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i
b. 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i
c. 8u, 11u, 8a, 7a, 12u, 8a, 8i
d. 8a, 11i, 8u, 7a, 10u, 8a, 8i